I. PENDAHULUAN
Seperti halnya manusia, untuk pertumbuhan dan perkembangbiakan serta kelangsungan hidupnya ikan juga memerlukan pakan yang cukup. Cukup yang dimaksud adalah cukup kualitas (mutu) dan kuantitas (jumlahnya). Pakan yang bermutu baik, salah satunya ditentukan oleh kandungan gizi (seperti: protein, karbohidrat, lemak, vitamin dan mineral) dalam komposisi yang tepat (seimbang). Dalam kegiatan budidaya ikan, petani dihadapkan pada masalah pertimbangan dan perhitungan energi dalam rantai kehidupan. Hal ini memperlihatkan bahwa masukan energi dalam bentuk pakan merupakan komponen biaya yang sangat besar sekitar 40-60 % dari biaya produksi. Masukan biaya untuk pakan dalam suatu kegiatan budidaya sangat dibutuhkan. Semakin besar masukan biaya pakan akan semakin besar pula biaya produksi ikan tersebut. Sehingga diperlukan upaya untuk mendapatkan jenis pakan yang efisien dapat meningkatkan produktifitas dan secara ekonomis menguntungkan.
Adapun pakan yang biasa kita jumpai dipasaran antara lain : pakan buatan seperti pellet, remah, flake, pasta dan tepung. Sedangkan pakan yang berbentuk binatang (jasad renik) biasa disebut sebagai pakan alami, sebagai contoh : Moina, Daphnia, Artemia, jentik nyamuk, cacing rambut dsb. Pada kegiatan pembenihan, dimana setelah larva ikan hampir habis makanan cadangan bawaannya (kuning telur) dan mulai memerlukan pakan dari luar, maka saat itu mutlak diperlukan pakan yang cocok baginya. Stadia ini biasanya disebut sebagai masa kritis bagi larva ikan. Hal ini yang mendorong para petani pembenih menggunakan pakan alami sebagai ransum dalam kegiatan pembenihan.
Dengan semakin besarnya ukuran anak ikan/larva, maka semakin meningkat jumlah kebutuhan pakan alami yang harus disediakan, dan untuk mengantisipasi terhadap keterbatasan pakan alami, petani ikan mulai beralih pada penggunaan pakan buatan. Penyediaan pakan buatan memerlukan pengetahuan dan pengalaman khusus, karena banyak faktor ( biologi, kimia, fisika ) yang berpengaruh terhadap kualitas pakan buatan yang dihasilkan.
Hal yang perlu diketahui adalah kemungkinan adanya kandungan racun dari bahan baku yang akan digunakan dalam formulasi pakan ikan. Beberapa bahan baku secara alami yang telah diketahui mengandung racun, yang dapat ditanggulangi melalui perlakuan sebelum digunakan sebagai bahan siap pakai dalam formulasi pakan, diantaranya:
Jenis Bahan
|
Zat antinutritive
|
Perlakuan
|
Kacang kedelai
|
-protease (trypsin)
-inhibitor lectins, geitrogen
-anti vit.D dan anti vit E
|
-pemanasan kering 175–195 oC
atau perebusan selama 10 menit
|
Daun lamtoro
|
- mimosin
|
-perendaman air mengalir selama 24 jam
|
Daun Singkong
|
- cyanogens
|
-perendaman air mengalir selama 24 jam
|
Biji Kapuk
|
-Gossypol
|
-dehulling (pengikisan kulit)
|
Ikan mentah, ikan busuk, kerang-kerangan
|
-thiaminase
|
-pengukusan (steam) selama 30 menit.
|
Sumber: Liener (1962, 1980); Eusebio (1984); Eusebio (1991).
| ||
Pengetahuan kandungan gizi terhadap bahan baku yang akan digunakan dalam pakan sangat diperlukan guna untuk menghasilkan formulasi pakan yang tepat, benar serta menguntungkan, terutama dalam rangka memanfaatkan bahan baku lokal atau hasil limbah pertanian, perikanan maupun industri makanan. Untuk itu disajikan beberapa alternatif bahan baku berikut perkiraan kandungan gizinya, seperti terlihat pada tabel berikut;
b. Kandungan Gizi berbagai Bahan Baku Pakan
No | Jenis Bahan |
Kandungan gizi ( % )
| |||||
Air
|
Protein
|
Lemak
|
Serat
| Abu | Karbohidrat | ||
A | Bahan hewani | ||||||
1
|
T. udang
|
17,28
|
53,74
|
8,95
|
4,49
|
24,96
|
10,79
|
2
|
T. ikan
|
9,9
|
62,99
|
6,01
|
3,54
|
14,42
|
12,79
|
3
|
T.siput Murbei
|
12,5
|
52,9
|
3,71
|
2,81
|
0,68
| |
4
| T.bekicot |
8,20
|
54,29
|
4,18
|
1,05
|
18,67
|
30,45
|
5
|
Tepung darah ternak
|
8,19
|
71,45
|
0,42
|
7,95
|
5,45
|
13,12
|
Bahan Nabati | |||||||
1 |
T.kedelai
|
11,5
|
46,36
|
5,312
|
2,8
|
7,08
|
42,65
|
2 |
Dedak Halus
|
10,10
|
15,38
|
7,79
|
7,80
|
7,19
|
34,73
|
3 |
T. terigu
|
13,10
|
12,27
|
1,16
|
--
|
0,58
|
79,70
|
4 |
T. jagung
|
12,20
|
9,50
|
3,22
|
1,76
|
1,76
|
71,72
|
5 |
T.Bungkil kelapa
|
9,53
|
13,45
|
10,34
|
7,67
|
6,24
|
19,5
|
6 | T.daun lamtoro/turi |
9,3
|
14,1
|
3,43
|
18,14
|
1,31
|
28,5
|
7 | T.Ampas Tahu |
10,52
|
23,86
|
5,93
|
26,39
|
42,97
| |
8 | Ampas kecap |
26,04
|
11,53
|
3,45
|
1,48
|
10,85
|
--
|
9 |
Bungkil kacang tanah
|
7,8
|
47,9
|
10,9
|
3,6
|
4,8
|
25,0
|
10 |
Sorgum
|
10,64
|
13,0
|
2,05
|
13,5
|
12,6
|
47,85
|
11 |
T. gaplek
|
13,0
|
2,45
|
1,43
|
4,60
|
1,85
|
76,12
|
12 |
T.onggok
|
25,27
|
1,06
|
2,30
|
13,34
|
1,03
|
56,99
|
13 |
Ubi kayu
|
66,70
|
1,00
|
0,40
|
1,40
|
0,50
|
30,0
|
14 |
Ubi jalar
|
75,08
|
1,89
|
2,96
|
3,80
|
4,18
|
77,75
|
15 |
T.Daun Azolla
|
8,5
|
25,1
|
3,8
|
12
|
23,9
|
35,1
|
16 |
T.Daun singkong
|
3,8
|
27,6
|
7,7
|
11,7
|
--
|
45,6
|
III. PERSIAPAN ALAT DAN BAHAN
Alat :
Kompor, baskom, pisau, loyang, Talenan, Dandang, Pengukus, Sendok, Gilingan daging
Bahan :
1. dedak halus dengan kandungan protein : 15,38 %
2. Tepung Ikan dengan kandungan protein : 62,99 %
3. Daun Turi dengan kandungan protein : 14,1 %
4. Tepung kanji sebagai perekat
6. vitamin sebagai bahan tambahan 1 bungkus (1 – 2 %)
IV. MENYUSUN FORMULASI PAKAN BUATAN
untuk Omnivora dalam menyususn formula harus berimbang antara bahan nabati maupun hewani. Pada Herbivor sebaliknya, dimana bahan nabati lebih banyak digunakan dalam formulasinya. Beberapa hal yang perlu diketahui dalam memilih bahan baku untuk ikan, antara lain :
- Ketersediaan bahan baku; mudah diperoleh secara berkesinambungan
- Mempunyai nilai gizi yang relatif tinggi
- Mudah diolah dan tidak mengandung racun
- Nilai ekonomis, sehingga pakan yang dihasilkan menguntungkan.
Salah satu cara yang paling sederhana dalam menyusun formulasi adalah dengan Metoda Kuadratik. Metoda ini didasarkan pada pembagian bahan-bahan makanan ikan menurut level kandungan proteinnya. Berdasarkan level kandungan protein, bahan pakan dibagi atas:
(1). Basal makanan, yaitu bahan-bahan makanan ikan, baik yang berasal dari bahan nabati maupun hewani yang mempunyai kandungan protein kurang dari 20 %
(2). Protein suplemen, yaitu bahan makanan ikan yang mempunyai kandungan protein lebih besar dari 20 %.
Menurut kriteria level protein diatas, maka dapat disusun beberapa formulasi makanan ikan dengan kandungan protein tertentu yang dikehendaki. Sebagai contoh, dalam penggunaan metoda ini adalah sebagai berikut:
Bahan pakan yang digunakan terdiri dari dedak halus dengan kandungan protein 15,58 % dan tepung ikan dengan kandungan protein 62,99 % dan daun turi dengan kandungan protein 14,1 % harus disusun formulasi makanan ikan dengan kandungan protein 30 %,
V. PROSES PEMBUATAN
Tahapan proses pembuatan pakan :
- Ikan asin direndam dengan menggunakan air garam selama ± 1 malam, kemudian tiriskan sampai benar-benar tidak ada airnya, kemudian giling/tumbuk ikan asin sampai halus.
- Siapkan perekat yaitu campur tepung kanji dengan air ± 1 liter, dan masak sambil di aduk selama ± 20 menit.
- Campur semua bahan pada tempat yang tersedia.
- Tambahkan air ± 60 % pada campuran bahan tersebut sampai menjadi adonan.
- Setelah bahan tercampur, masukkan lem/perekat yang sudah terbuat., kemudian kukus adonan selama ± 20 menit.
- Dinginkan dan tambahkan larutan vitamin 1 bungkus, aduk sampai rata.
- Kemudian giling adonan agar terbentuk menjadi pellet.
- Jemur pellet dalam keadaan utuh selama 2 – 3 hari sampai kering.
VI. ANALISA USAHA
INPUT
NO
|
URAIAN
|
HARGA SATUAN (RP)
|
JUMLAH (RP)
|
1.
|
Tepung ikan 3,5 kg
|
Rp 1.000,-
|
Rp 3.500,-
|
2.
|
Dedak halus 3,5 kg
|
Rp 1.500,-
|
Rp 5.250,-
|
3.
|
Tepung kanji 0,25 kg
|
Rp 2.500,-
|
Rp 2.500,-
|
4.
|
Daun turi
|
-
|
-
|
5.
|
Vitamin 1 bungkus
|
Rp 1500
|
Rp 1.500,-
|
Jumlah Total
|
Rp 12.750,-
| ||
OUTPUT
Untuk 10 kg bahan yang digunakan dapat menghasilkan pellet kering 9 kg.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Sertakan komentar Anda