Zipi John Mamenk

SELAMAT DATANG DI BLOGSPOT ZIPI JOHN MAMENK.... OJO LUPA SARAN & KRITIKNYA UKEYYY......... I LOVE YOU.... WE LOVE YOU.....LET'S BE HAPPY N JADIKAN HARI ESOK LEBIH BAEK !!!!

Selasa, 15 Januari 2013

Pemilihan Induk Lele Untuk Pemijahan

Pemilihan Induk Lele Untuk Pemijahan


1. Ciri-ciri induk lele jantan : 
Gambar 1. Induk lele jantan

  • Kepalanya lebih kecil dari induk ikan lele betina.
  • Warna kulit dada agak tua bila dibanding induk ikan lele betina. 
  • Urogenital papilla (kelamin) agak menonjol, memanjang ke arah belakang, terletak di belakang anus, dan warna kemerahan. 
  • Gerakannya lincah, tulang kepala pendek dan agak gepeng (depress). 
  • Perutnya lebih langsing dan kenyal bila dibanding induk ikan lele betina. 
  • Bila bagian perut di stripping secara manual dari perut ke arah ekor akan mengeluarkan cairan putih kental (spermatozoa-mani). 
  • Kulit lebih halus dibanding induk ikan lele betina. 
2. Ciri-ciri induk lele betina 
Gambar 2. Induk lele betina
  •  Kepalanya lebih besar dibanding induk lele jantan. 
  • Warna kulit dada agak terang.   
  • Urogenital papilla (kelamin) berbentuk oval (bulat daun), berwarna kemerahan, lubangnya agak lebar dan terletak di belakang anus.  
  • Gerakannya lambat, tulang kepala pendek dan agak cembung.  
  • Perutnya lebih gembung dan lunak.  
  • Bila bagian perut di stripping (diurut perlahan dari perut bagian depan ke arah kelamin) secara manual  akan mengeluarkan butiran kecil kekuning-kuningan (ovum/telur). 
3. Syarat induk lele yang baik :  
  • Kulitnya lebih kasar dibanding induk lele jantan. 
  • Induk lele diambil dari lele yang dipelihara dalam kolam sejak kecil supaya terbiasa hidup di kolam (kalau induk didapatkan dari membeli sebaiknya dilakukan proses adaptasi terlebih dahulu kisaran > 1 minggu) 
  • Berat badannya berkisar antara 1000 - 2000 gram.
  • Bentuk badan simetris, tidak bengkok, tidak cacat, tidak luka, dan lincah.  
  • Umur induk jantan di atas tujuh bulan, sedangkan induk betina berumur satu tahun.  
  • Frekuensi pemijahan bisa satu bulan sekali, dan sepanjang hidupnya bisa memijah lebih dari 15 kali dengan syarat apabila makanannya mengandung cukup protein.
4. Ciri-ciri induk lele siap memijah

  • calon induk terlihat mulai berpasang-pasangan, kejar-kejaran antara yang jantan dan yang betina. Induk tersebut segera ditangkap dan ditempatkan dalam kolam tersendiri untuk dipijahkan.
  • Indukan lele jantan dalam proses stripping mengeluarkan cairan berwarna putih (sperma)
  • Indukan betina perutnya terlihat mengembung dan bila dilakukan proses stripping mengeluarkan  butiran kecil berwarna kuning (telur)

Perawatan induk lele :

  • Selama masa pemijahan dan masa perawatan, induk ikan lele diberi makanan yang berkadar protein tinggi seperti cincangan daging (bisa berbagai macam daging),atau makanan buatan (pellet). Ikan lele membutuhkan pellet dengan kadar protein yang relatif tinggi, yaitu ± 60%. ( untuk pemberian pakan selain pelet sebaiknya sebagai selingan, kadar pemberian cincangan daging setiap 4 - 7 hari sekali)
  • Makanan diberikan pagi hari dan sore hari dengan jumlah 5-10% dari berat total ikan. 
  • Segera pisahkan induk-induk yang mulai lemah atau yang terserang penyakit untuk segera diobati. 
  • Usahakan untuk mengganti air setiap periode tertentu, pergantian bisa dilakukan secara keseluruhan atau dengan mengurangi 75 % volume air kemudian dilakukan pengisian dengan air yang baru.

TAHAP PEMIJAHAN IKAN LELE

TAHAP PEMIJAHAN IKAN LELE

 

Setelah beberapa saat refreshing dengan posting" dari topik yang berbeda sekarang kembali fokus pada topik mengenai ikan. Tahap sebelumnya kita sudah membahas mengenai persyaratan lokasi dan cara memilih indukan yang baik. Pada thapan ini saya akan membahas mengenai bagaimana cara memijahkan ikan lele. metode pemijahan yang akan kita pelajari kali ini adalah metode pemijahan tingkat pemula (metode tradisional), tapi jangan kuatir meskipun metodenya masih tahap pemula akan tetapi dengan usaha yang sungguh-sungguh hasil benih yang didapat pun akan berlimpah. Metode yang saya sampaikan disini berdasarkan beberapa referensi yang saya pelajari dan juga berdasarkan praktek pemijahan yang telah saya lakukan.

Tahap-tahap yang perlu kita lakukan antara lain :
  1. Pemilihan indukan, untuk cara pemilihan indukan bisa dilihat pada posting saya sebelumnya. Pilihlah 1 ekor induk jantan dan satu ekor induk betina yang benar-benar sesuai dengan kriteria yang sudah saya sampaikan.(Untuk keadaan tertentu seperti indukan betina yang terlalu kecil maka anda dapat mengganti perbandingan 1 jantan : 1 betina dengan 1 jantan : 2 betina).
  2. Setelah tahap pemilihan selesai masukkan indukan ikan lele pada kolam yang telah diberi kakaban (bisa ijuk, daun kelapa atau pun genteng tanah) dan diisi air sekitar 30 cm. Lakukan proses pemilihan dan penempatan di kolam pada sore hari antara jam 3 sampai dengan jam 5 sore ( hal ini dimaksudkan untuk memberi kesempatan indukan untuk beradaptasi terhadapa lingkungan barunya sebelum melakukan pemijahan dimalam harinya.
  3. Proses pemijahan akan terjadi pada rentang waktu antara tengah malam hingga dini hari. Yang perlu diingat selama induk lele berada di kolam pemijahan jangan memberikan pakan karena dapat memcu stres.
  4. Biarkan induk lele selama semalam di kolam pemijahan dan anda dapat memeriksa kolam saat pagi hari sekitar pukul 5 sampai dengan pukul enam. bila proses pemijahan berhasil akan tampak butiran-butiran kecil berwarna putih kekuningan yang menempel pada ijuk. Biasanya setiap indukan lele yang sehat dan baik akan mengelurkan telur antara 20.000 - 30.000 butir per Kg berat induk betina.
  5. Langkah selanjutnya adalah pengambilan indukan dari kolam pemijahan. Pengambilan indukan bisa menggunakan seser dengan syarat  lakukan setenang mungkin sehingga indukan tidak melakukan banyak gerakan yang dapat merusak telur di sekitarnya ( ada beberapa metode yang membiarkan indukan jantan tetap dikolam sampai umur tertentu, tetapi metode yg saya praktekkan adalah pengambilan semua indukan)
  6.  Induk lele yang telah diambil tersebut letakkan pada kolam terpisah (jangan dicapur dengan indukan lele yang lain). Hal tersebut dikarenakan proses pemijahan membutuhkan energi yang cukup besar sehingga induk lele dalam kondisi lemah dan riskan diserang oleh indukan lele lainnya.
  7. Kembali mengenai telur yang berada dikolam pemijahan. Kolam yang berisi telur lele tersebut sebaiknya mulai diberi kucuran air untuk memberi pasokan oksigen ke air ( karena proses penetasan membutuhkan oksigen, hal itu pula yang mendasari air untuk pemijahan hanya 30 cm sehingga difusi oksigen dari udara bisa membantu proses penetasan.
  8. Setelah 1 - 3 hari biasanya telur lele akan mulai menetas menjadi larva lele yang berwarna transparant . proses penetasan akan berlangsung bertahap memakan waktu 2 - 3 hari
  9. Setelah proses penetasan selesai anda dapat mengambil kakaban yang berada di kolam dengan cara pengambilan sedikit digoyang"kan sehingga tidak ada larva lele yang menempel/ terbawa dikakaban (pengambilan kakaban diperlukan agar tidak timbul jamur yang menempel di kakaban dan menyebabkan larva terserang jamur)
  10. Larva lele yang telah menetas tidak perlu diberi makan hingga umur 4 hari karena rentang pada rentang waktu tersebut ketersediaan makan untuk larva masih dipenihi oleh yolk (kuning telur) dari larva itu sendiri.

PEMBUATAN PAKAN IKAN ALTERNATIF

PEMBUATAN PAKAN IKAN ALTERNATIF

 I. PENDAHULUAN

Seperti halnya manusia, untuk pertumbuhan dan perkembangbiakan serta kelangsungan hidupnya ikan juga memerlukan pakan yang cukup.  Cukup yang dimaksud adalah cukup kualitas (mutu) dan kuantitas (jumlahnya).  Pakan yang bermutu baik, salah satunya ditentukan  oleh kandungan gizi (seperti: protein, karbohidrat, lemak, vitamin dan mineral) dalam komposisi yang tepat (seimbang). Dalam kegiatan budidaya ikan, petani dihadapkan pada masalah pertimbangan dan perhitungan energi dalam rantai kehidupan.  Hal ini memperlihatkan  bahwa masukan energi dalam bentuk pakan merupakan komponen biaya yang sangat besar sekitar 40-60 % dari biaya produksi.  Masukan biaya untuk pakan dalam suatu kegiatan budidaya sangat dibutuhkan.  Semakin besar masukan biaya pakan akan semakin besar pula biaya produksi ikan tersebut.  Sehingga diperlukan upaya untuk mendapatkan jenis pakan yang efisien dapat meningkatkan produktifitas dan secara ekonomis menguntungkan.
Adapun pakan yang biasa kita jumpai dipasaran antara lain : pakan buatan  seperti pellet, remah, flake, pasta dan tepung.  Sedangkan pakan yang berbentuk binatang (jasad renik) biasa disebut sebagai pakan alami, sebagai contoh : Moina, Daphnia, Artemia, jentik nyamuk, cacing rambut dsb.  Pada kegiatan pembenihan, dimana setelah  larva ikan hampir habis makanan cadangan bawaannya (kuning telur) dan mulai memerlukan pakan dari luar, maka saat itu mutlak diperlukan pakan yang cocok baginya.  Stadia ini biasanya disebut sebagai masa kritis bagi larva ikan.  Hal ini yang mendorong para petani pembenih menggunakan pakan alami sebagai ransum dalam kegiatan pembenihan.
Dengan semakin besarnya ukuran anak ikan/larva, maka semakin meningkat jumlah kebutuhan pakan alami yang harus disediakan, dan untuk mengantisipasi terhadap keterbatasan pakan alami, petani ikan mulai beralih pada penggunaan pakan buatan.  Penyediaan pakan buatan memerlukan pengetahuan dan pengalaman khusus, karena banyak faktor ( biologi, kimia, fisika ) yang berpengaruh terhadap kualitas pakan buatan yang dihasilkan.

II. BAHAN PAKAN BUATAN
Hal yang perlu diketahui adalah kemungkinan adanya kandungan racun dari bahan baku yang akan digunakan dalam formulasi pakan ikan.  Beberapa bahan baku secara alami yang telah diketahui mengandung racun, yang dapat ditanggulangi melalui  perlakuan sebelum digunakan  sebagai bahan siap pakai dalam formulasi pakan, diantaranya:
Jenis Bahan
Zat antinutritive
Perlakuan
Kacang kedelai
-protease (trypsin)
-inhibitor lectins, geitrogen
-anti vit.D dan anti vit E
-pemanasan kering 175–195 oC
 atau perebusan selama 10 menit
Daun lamtoro
- mimosin
-perendaman air mengalir  selama 24 jam
Daun Singkong
- cyanogens
-perendaman air mengalir  selama 24 jam
Biji Kapuk
-Gossypol
-dehulling (pengikisan kulit)
Ikan mentah, ikan busuk, kerang-kerangan
-thiaminase
-pengukusan (steam) selama 30  menit.
Sumber:  Liener  (1962, 1980); Eusebio (1984); Eusebio (1991).
 Pengetahuan kandungan gizi terhadap bahan baku yang akan digunakan dalam pakan sangat diperlukan guna untuk menghasilkan formulasi pakan yang tepat, benar serta menguntungkan, terutama dalam rangka memanfaatkan bahan baku lokal atau hasil limbah pertanian, perikanan maupun industri makanan.  Untuk itu disajikan beberapa alternatif bahan baku berikut perkiraan kandungan gizinya, seperti terlihat pada tabel berikut;

b. Kandungan Gizi berbagai Bahan Baku Pakan

No

Jenis Bahan
Kandungan gizi ( % )
Air
Protein
Lemak
Serat

Abu

Karbohidrat

A

Bahan hewani







1
T. udang
17,28
53,74
8,95
4,49
24,96
10,79
2
T. ikan
9,9
62,99
6,01
3,54
14,42
12,79
3
T.siput Murbei
12,5
52,9
3,71
2,81

0,68
4
T.bekicot
8,20
54,29
4,18
1,05
18,67
30,45
5
Tepung darah ternak
8,19
71,45
0,42
7,95
5,45
13,12

 

Bahan Nabati






1

T.kedelai
11,5
46,36
5,312
2,8
7,08
42,65

2

Dedak Halus
10,10
15,38
7,79
7,80
7,19
34,73

3

T. terigu
13,10
12,27
1,16
--
0,58
79,70

4

T. jagung
12,20
9,50
3,22
1,76
1,76
71,72

5

T.Bungkil kelapa
9,53
13,45
10,34
7,67
6,24
19,5

6

T.daun lamtoro/turi
9,3
14,1
3,43
18,14
1,31
28,5

7

T.Ampas Tahu
10,52
23,86
5,93
26,39

42,97

8

Ampas kecap
26,04
11,53
3,45
1,48
10,85
--

9

Bungkil kacang tanah
7,8
47,9
10,9
3,6
4,8
25,0

10

Sorgum
10,64
13,0
2,05
13,5
12,6
47,85

11

T. gaplek
13,0
2,45
1,43
4,60
1,85
76,12

12

T.onggok
25,27
1,06
2,30
13,34
1,03
56,99

13

Ubi kayu
66,70
1,00
0,40
1,40
0,50
30,0

14

Ubi jalar
75,08
1,89
2,96
3,80
4,18
77,75

15

T.Daun Azolla
8,5
25,1
3,8
12
23,9
35,1

16

T.Daun singkong
3,8
27,6
7,7
11,7
--
45,6

III.    PERSIAPAN ALAT DAN BAHAN
Alat :
Kompor, baskom, pisau, loyang, Talenan, Dandang, Pengukus, Sendok, Gilingan daging

Bahan :
1. dedak halus dengan kandungan protein          : 15,38 %
2. Tepung Ikan   dengan kandungan protein         : 62,99 %
3. Daun Turi dengan kandungan protein              : 14,1 %
4. Tepung kanji sebagai perekat
6. vitamin sebagai bahan tambahan 1 bungkus (1 – 2 %)

IV.    MENYUSUN FORMULASI PAKAN BUATAN

untuk Omnivora dalam menyususn formula harus berimbang antara bahan nabati maupun hewani.  Pada Herbivor sebaliknya, dimana bahan nabati lebih banyak digunakan dalam formulasinya. Beberapa hal yang perlu diketahui dalam memilih bahan baku untuk ikan, antara lain :
  • Ketersediaan bahan baku; mudah diperoleh secara berkesinambungan
  • Mempunyai nilai gizi yang relatif tinggi
  • Mudah diolah dan tidak mengandung racun
  • Nilai ekonomis, sehingga pakan yang dihasilkan menguntungkan.
Salah satu cara yang paling sederhana  dalam menyusun formulasi adalah dengan Metoda Kuadratik. Metoda ini didasarkan pada pembagian bahan-bahan makanan ikan menurut level kandungan proteinnya.  Berdasarkan level kandungan protein, bahan pakan dibagi atas:
(1). Basal makanan, yaitu bahan-bahan makanan ikan, baik yang berasal dari bahan nabati maupun hewani yang mempunyai kandungan protein kurang dari 20 %
(2). Protein suplemen, yaitu bahan makanan ikan yang mempunyai kandungan protein lebih besar dari 20 %.
Menurut kriteria level protein diatas, maka dapat disusun beberapa formulasi makanan ikan dengan kandungan protein tertentu yang dikehendaki.  Sebagai contoh, dalam penggunaan metoda ini adalah sebagai berikut:
Bahan pakan yang digunakan terdiri dari dedak halus dengan kandungan protein 15,58 % dan tepung ikan dengan kandungan protein 62,99 % dan daun turi dengan kandungan protein 14,1 %  harus disusun formulasi makanan ikan dengan kandungan protein 30 %,

V.     PROSES PEMBUATAN
Tahapan proses pembuatan pakan :
-     Ikan asin direndam dengan menggunakan air garam selama ± 1 malam, kemudian tiriskan sampai benar-benar tidak ada airnya, kemudian giling/tumbuk ikan asin sampai halus.
-     Siapkan perekat yaitu campur tepung kanji dengan air ± 1 liter, dan masak sambil di aduk selama ± 20 menit.
-     Campur semua bahan pada tempat yang tersedia.
-     Tambahkan air ± 60 % pada campuran bahan tersebut sampai menjadi adonan.
-     Setelah bahan tercampur, masukkan lem/perekat yang sudah terbuat., kemudian kukus adonan selama ± 20 menit.
-     Dinginkan dan tambahkan larutan vitamin 1 bungkus, aduk sampai rata. 
-     Kemudian giling adonan agar terbentuk menjadi pellet.
-     Jemur pellet dalam keadaan utuh selama 2 – 3 hari sampai kering.
VI.    ANALISA USAHA
INPUT
NO
URAIAN
HARGA SATUAN (RP)
JUMLAH (RP)
1.
Tepung ikan  3,5 kg
Rp 1.000,-
Rp 3.500,-
2.
Dedak halus 3,5 kg
Rp 1.500,-
Rp 5.250,-
3.
Tepung kanji 0,25 kg
Rp 2.500,-
Rp 2.500,-
4.
Daun turi
-
-
5.
Vitamin 1 bungkus
Rp 1500
         Rp 1.500,-
Jumlah Total
Rp 12.750,-
OUTPUT
Untuk 10 kg bahan yang digunakan dapat menghasilkan pellet kering 9 kg.